Nurra terus meluru ke dapur dengan langkah yang pantas. Menjengah ke kiri dan kanan memerhati dari mana arah bunyi yang kedengaran tadi. Ah....lega rasanya, rupanya Si Kuning menyelongkar ikan di bawah saji. Ceh!....ingatkan apa tadi. Melihat situasi yang kembali tenang, dia kembali ke ruang tamu, maklum semenjak tadi hidung Liyana masih tak kunjung tiba. Janji tepat 5.00 pm terpacul di dada pintu masih tak kelihatan. " Inilah janji Melayu...." dengus Nurra.
Liyana bukan orang lain di hati Nurra, baginya Liyana ialah sahabat baik dunia dan akhirat. Semenjak kecil mereka berjiran di tambah pula ibu Liyana juga sahabat karib Puan Alia, ibu Nurra. Jam di tepi pintu sudah pun menunjukkan angka 5.16 pm, Nurra bingkas lalu mencapai telefon bimbit pemberian Iman, " Baik aku call......entah jadi entah tidak ni.....". Tepat tekaan Nurra , Liyana baru sahaja menuruni tangga .....baru keluar rumah. Kurang asam betul dia ini....nanti kau siap aku bubuh cili dengan asam biar jadi pencicah ikan bakar..... Sementelah menantikan Liyana, Nurra santai di beranda rumah.....malas untuk naik ke rumah semula.
Sedang bermenung baju apa yang ingin dipakai untuk majlis kenduri nanti....Nurra jadi terkedu, kereta hitam yang biasa dia lihat melintasi jalan hadapan rumah. Ah...tak mungkin,bisik hatinya.......... kereta pelanduk dua serupa pujuk hatinya agar kembali aman seperti sebelumnya
Sedang bermenung baju apa yang ingin dipakai untuk majlis kenduri nanti....Nurra jadi terkedu, kereta hitam yang biasa dia lihat melintasi jalan hadapan rumah. Ah...tak mungkin,bisik hatinya.......... kereta pelanduk dua serupa pujuk hatinya agar kembali aman seperti sebelumnya
Namun, ruang hatinya mula gelisah.....hatinya bagai dihambat sesuatu...fikirannya mula menerawang jauh....tidak mungkin!...tidak mungkin...pujuk hatinya.